Rabu, 06 September 2017

SLENTHEM, GAMELAN MADU LARAS, LOCERET NGANJUK

SLENTHEM, GAMELAN MADU LARAS, LOCERET NGANJUK



Slenthem



PENGRAJIN GAMELAN
"MADU LARAS"
NO SIUP: 511.3/2933/411.306/2013

Menerima Pesanan dan Perbaikan Gamelan Jawa
Laras Pelok , Slendro dan Diantonis beserta ancak / tempat dengan ukir biasa / timbul
Per biji ataupun Per Set
HUBUNGI:
Bpk Karyadi / Bpk Pardjono
No. HP : 085655749199
082234310871
0358-325585





See Youtube:

https://www.youtube.com/watch?v=88KVwNMyaho&spfreload=5

https://www.youtube.com/watch?v=3rAfjFbtrgQ

https://www.youtube.com/watch?v=3K9y3ni-Zpc&t=16s

https://www.youtube.com/watch?v=mVt92DhxHlI




Slenthem merupakan salah satu instrumen gamelan yang terdiri dari lembaran lebar logam tipis yang diuntai dengan tali dan direntangkan di atas tabung-tabung dan menghasilkan dengungan rendah atau gema yang mengikuti nada saron, ricik, dan balungan bila ditabuh. Beberapa kalangan menamakannya sebagai gender penembung. Seperti halnya pada instrumen lain dalam satu set gamelan, slenthem tentunya memiliki versi slendro dan versi pelog. Wilahan Slenthem Pelog umumnya memiliki rentang nada C hingga B, sedangkan slenthem slendro memiliki rentang nada C, D, E, G, A, C'.
Cara memainkan
Cara menabuh slenthem sama seperti menabuh balungan, ricik, ataupun saron. Tangan kanan mengayunkan pemukulnya dan tangan kiri melakukan "patet", yaitu menahan getaran yang terjadi pada lembaran logam. Dalam menabuh slenthem lebih dibutuhkan naluri atau perasaan si penabuh untuk menghasilkan gema ataupun bentuk dengungan yang baik. Pada notasi C, D, E, G misalnya, gema yang dihasilkan saat menabuh nada C harus hilang tepat saat nada D ditabuh, dan begitu seterusnya.
Untuk tempo penabuhan, cara yang digunakan sama seperti halnya bila menggunakan balungan, ricik, dan saron. Namun untuk keadaan tertentu misalnya demung imbal, maka slenthem dimainkan untuk mengisi kekosongan antara nada balungan yang ditabuh lambat dengan menabuh dua kali lipat ketukan balungan. Atau bisa juga pada kondisi slenthem harus menabuh setengah kali ada balungan karena balungan sedang ditabuh cepat, misalnya ketika gendhing Gangsaran pada adegan perangan.

Sumber



Slenthem




Slenthem / Gender panembung
(Collection of
Tropenmuseum)
The slenthem (also slentem or gender panembung) is a Javanese metallophone which makes up part of a gamelan orchestra.
The slenthem is part of the gendér family.[1] It consists of a set of bronze keys comprising a single octave: there are six keys when playing the slendro scale and seven when playing the pelog. These keys are suspended by leather cords over individual bamboo tube resonators in a wooden frame, which are cut so that the placement of the bamboo's node causes the functional length of the resonator to be shorter for higher notes. The instrument is played by striking the keys with a mallet, called a tabuh, which has a short handle and a thin wooden disk edged in cloth or rubber. One hand is left free to dampen notes.[2] It is a low-pitched instrument[3] with a softer sound than the saron demung.[4]
Like the saron barung and demung, it generally plays the most basic form of the melody (balungan) in a composition.[5] However it also sometimes uses techniques similar to the saron to elaborate. It is especially favored in quieter gamelan ensembles (such as Gamelan Gadhon); but it is a part of standard Gamelan Gedhé as the only soft-style instrument also played in loud-style pieces.
It is typically placed among the instruments at the front of the performing area.[6]




PENGRAJIN GAMELAN
"MADU LARAS"
NO SIUP: 511.3/2933/411.306/2013

Menerima Pesanan dan Perbaikan Gamelan Jawa
Laras Pelok , Slendro dan Diantonis beserta ancak / tempat dengan ukir biasa / timbul
Per biji ataupun Per Set
HUBUNGI:
Bpk Karyadi / Bpk Pardjono
No. HP : 085655749199
082234310871
0358-325585

 See Also:


 

Selasa, 25 Juli 2017


KENONG, GAMELAN MADU LARAS, NGANJUK




PENGRAJIN GAMELAN
"MADU LARAS"
NO SIUP: 511.3/2933/411.306/2013

Menerima Pesanan dan Perbaikan Gamelan Jawa
Laras Pelok , Slendro dan Diantonis beserta ancak / tempat dengan ukir biasa / timbul
Per biji ataupun Per Set
HUBUNGI:
Bpk Karyadi / Bpk Pardjono
No. HP : 085655749199
082234310871
0358-325585



Kenong

Kenong merupakan salah satu alat musik yang menyusun gamelan Jawa. Kenong biasanya dimainkan dengan dipukul oleh satu alat pemukul. Alat ini merupakan pengisi akor atau harmoni dalam permainkan gamelan, kenong berfungsi sebagai penentu batas-batas gatra, menegaskan irama. Kenong juga termasuk dalam alat musik berpencu, namun ukuran lebih besar daripada bonang. Alat ini juga dipukul menggunakan alat pemukul kayu yang dililitkan kain. Jumlah dalam satu set bervariasi tetapi biasanya sekitar 10 buah.
Bentuk
Kenong merupakan unsur instrumen pencon gamelan yang paling gemuk, dibandingkan dengan kempul dan gong yang walaupun besar namun berbentuk pipih. Kenong ini disusun pada pangkon berupa kayu keras yang dialasi dengan tali, sehingga pada saat dipukul kenong tidak akan bergoyang ke samping namun dapat bergoyang ke atas bawah, sehingga menghasilkan suara. Bentuk kenong yang besar menghasilkan suara yang rendah namun nyaring dengan timber yang khas (dalam telinga masyarakat Jawa ditangkap berbunyi ning-nong, sehingga dinamakan kenong). Dalam gamelan, suara kenong mengisi sela-sela antara kempul.

Sumber:


 Kenong
 

The kenong is an instruments used in the Indonesian gamelan. It is technically a kind of gong. It is placed on its side . I has the same length and width. Thus it is similar to the bonang, kempyang and ketuk, which are also cradled gongs. Kenongs are generally much larger than the aforementioned instruments. However. It has a considerably higher pitch. Its sound stands out because of its unique timbre. The kenong sticks are taller than that of the bonang. The kenong is sometimes played by the same player as the kempyang and ketuk.
Most of the instruments in the gamelan 'family'. are originally from China but spread to Southeast Asia.
The kenong usually has a specific part in the colotomic structure of the gamelan, marking off parts of a structure smaller than a gongan (the space between each strike of the gong). The interval of each part between strikes of a kenong is called a nongan. In a fast, short structure these can only last a second or so; in a longer gendhing, particularly in a slow irama, they can last several minutes. There are usually two or four nongans in a gongan.
Kenongs are usually in sets of one for each note, although sometimes other notes can be substituted for any missing notes. A full gamelan would include sets for slendro and pelog. The boxes (rancak) for the kenong are usually for one or two; these are then put in a line or curve surrounding the player. There are generally more of them than there are kempuls, as all gamelan structures require kenong but not necessarily kempul.

Source:


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

GONG GAMELAN MADU LARAS LOCERET NGANJUK

GONG GAMELAN MADU LARAS LOCERET NGANJUK Gong   PENGRAJIN GAMELAN "MADU LARAS" NO SIUP: 511.3/2933/411.306/2013...